blog

Mengatasi Rendahnya Penggunaan Kursi Pengaman Anak di Tiongkok: Teka-teki Perlengkapan Namun Belum Digunakan

2025-12-12 08:43:48

Di era ketika keselamatan jalan raya telah menjadi perhatian utama bagi keluarga di seluruh dunia, Tiongkok menghadapi tantangan yang mendesak: rendahnya penggunaan kursi keselamatan anak (CSS) di kalangan orang tua. Meskipun kepemilikan kendaraan meningkat dan kesadaran akan keselamatan penumpang anak meningkat, statistik mengungkapkan kenyataan yang nyata. Berdasarkan survei terbaru, tingkat kepemilikan kursi keselamatan anak di Tiongkok mencapai sekitar 57,8%, namun tingkat penggunaan sebenarnya tertinggal di angka 47,6%, dengan hanya 18,8% orang tua yang melaporkan penggunaan yang konsisten. Kesenjangan ini menyoroti masalah “perlengkapan namun belum terpakai” – sebuah fenomena dimana keluarga memiliki peralatan yang diperlukan namun gagal menggunakannya secara efektif. Karena kecelakaan kendaraan bermotor masih menjadi penyebab utama cedera dan kematian anak-anak di Tiongkok, dengan lebih dari 20.000 anak terbunuh atau terluka setiap tahunnya dalam insiden tersebut, para ahli menyerukan intervensi segera untuk menjembatani kesenjangan ini dan melindungi penumpang termuda di negara tersebut.


Permasalahannya tidak berdiri sendiri namun berakar pada kombinasi faktor budaya, pendidikan, dan peraturan. Kursi keselamatan anak, yang dirancang untuk mengurangi risiko kematian akibat kecelakaan lalu lintas hingga 70% untuk bayi dan 54-80% untuk balita, merupakan alat penting untuk melindungi anak-anak selama perjalanan. Namun, di Tiongkok, dimana angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas pada anak-anak di bawah 14 tahun jauh lebih tinggi dibandingkan di banyak negara maju, adopsi anak-anak masih lamban. Secara global, sekitar 90% orang tua secara teratur menggunakan alat pengaman anak, namun di Tiongkok, angka ini merosot hingga 5% berdasarkan beberapa perkiraan dari penelitian sebelumnya. Bahkan di pusat perkotaan seperti Shanghai, penggunaan layanan hanya meningkat secara bertahap dari 5,12% pada tahun 2015 menjadi 8,55% pada tahun 2019, yang menunjukkan adanya kelambatan yang terus-menerus.


Untuk memahami dilema “dilengkapi namun belum terpakai”, penting untuk menyelidiki alasan di balik rendahnya tingkat penggunaan. Salah satu faktor utamanya adalah tidak adanya undang-undang nasional yang komprehensif yang mewajibkan sistem perlindungan anak (CRS). Berbeda dengan negara-negara seperti Amerika Serikat atau Uni Eropa, yang menerapkan undang-undang ketat dalam penggunaan CSS, Tiongkok tidak memiliki persyaratan nasional yang terpadu. Meskipun beberapa provinsi, seperti Shenzhen, telah menerapkan mandat lokal yang menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan praktik CRS, kerangka peraturan secara keseluruhan masih terfragmentasi. Sebuah survei terhadap orang tua mengungkapkan bahwa 44% menyebutkan kurangnya persyaratan hukum sebagai alasan utama untuk tidak menggunakannya. Tanpa penegakan hukum, banyak orang tua menganggap kursi pengaman sebagai pilihan dan bukan hal yang penting, sehingga menyebabkan penggunaan kursi pengaman secara sporadis atau bahkan tidak digunakan sama sekali bahkan ketika sudah dimiliki.


Selain peraturan perundang-undangan, ketidaknyamanan juga memainkan peran penting. Orang tua sering melaporkan bahwa menginstal dan menggunakan CSS itu rumit, terutama pada kendaraan kecil yang umum terjadi di perkotaan Tiongkok. Proses mengamankan kursi dengan sistem atau sabuk ISOFIX dapat memakan waktu, dan untuk perjalanan jarak dekat, banyak yang memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Dalam sebuah penelitian, 29,3% responden menyebutkan ketidaknyamanan sebagai penghalang. Hal ini diperparah dengan kesalahpahaman mengenai keselamatan anak; beberapa orang percaya bahwa menggendong anak memberikan perlindungan yang memadai, mengabaikan fisika tabrakan, di mana benturan dengan kecepatan rendah pun dapat menghasilkan gaya yang setara dengan beberapa kali berat anak. Selain itu, biaya juga menjadi penghalang bagi sebagian orang, dengan 19,9% orang tua dalam survei menyebutkan harga yang tinggi sebagai alasan untuk menghindarinya. Meskipun ada pilihan yang terjangkau, persepsi terhadap CSS sebagai barang mewah masih tetap ada, terutama di daerah pedesaan dimana tekanan ekonomi lebih tinggi.


Sikap budaya semakin memperburuk masalah. Di Tiongkok, keterlibatan keluarga besar dalam pengasuhan anak adalah hal biasa, dan kakek-nenek—yang sering kali berperan sebagai pengasuh utama—mungkin tidak akrab dengan peralatan keselamatan modern. Pandangan tradisional lebih mengutamakan kenyamanan daripada keselamatan, sehingga anak-anak dibiarkan duduk tanpa kendali atau dalam posisi kurang optimal, seperti kursi depan. Penelitian menunjukkan bahwa tidak digunakannya alat pengaman berdampak pada 45,4% penumpang anak-anak, sementara 31,2% ditempatkan pada posisi duduk yang tidak aman. Kesenjangan generasi dalam kesadaran ini berkontribusi pada masalah “peralatan lengkap tetapi tidak terpakai”, yaitu kursi yang dibeli tetapi berdebu karena penolakan dari anggota keluarga.


Konsekuensi dari rendahnya penggunaan ini sangat buruk. Kecelakaan lalu lintas merupakan kontributor utama terhadap kematian dan kesakitan anak di Tiongkok, dan UNICEF melaporkan bahwa hampir 60.000 anak meninggal setiap tahunnya karena penyebab yang dapat dicegah, termasuk kecelakaan lalu lintas. Anak-anak yang tidak memiliki alat pengekang yang tepat mempunyai risiko tinggi mengalami cedera parah, termasuk trauma kepala, kerusakan tulang belakang, dan kerusakan organ dalam. Dalam kecelakaan, anak-anak yang tidak terkendali dapat menjadi proyektil, yang membahayakan tidak hanya diri mereka sendiri tetapi juga orang lain di dalam kendaraan. Penelitian menekankan bahwa penggunaan CSS yang tepat dapat menurunkan risiko ini secara signifikan, namun rendahnya tingkat adopsi akan melanggengkan siklus tragedi yang dapat dihindari.


Untuk mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan multifaset. Pertama, penguatan peraturan perundang-undangan merupakan hal yang sangat penting. Keberhasilan di Shenzhen, dimana undang-undang CRS telah menghasilkan peningkatan penggunaan yang nyata, berfungsi sebagai model untuk peluncuran nasional. Undang-undang terpadu yang mewajibkan CSS untuk anak-anak di bawah usia atau tinggi badan tertentu, ditambah dengan hukuman bagi mereka yang tidak mematuhinya, dapat mengubah perilaku secara signifikan. Kampanye pendidikan publik juga sama pentingnya. Inisiatif yang dilakukan oleh organisasi seperti Organisasi Kesehatan Dunia dan otoritas kesehatan setempat dapat menghilangkan mitos dan menunjukkan kemudahan penggunaan melalui lokakarya dan penjangkauan media. Misalnya, menargetkan orang tua baru di rumah sakit bersalin telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan kesadaran dan adopsi awal.


Inovasi dalam desain produk juga dapat mengatasi ketidaknyamanan. Produsen meningkatkan fitur ramah pengguna yang membuat instalasi lebih cepat dan intuitif. Misalnya, produk dari BEWELL, pemasok kursi keselamatan anak terkemuka di Tiongkok, dilengkapi fiksasi ISOFIX untuk pengaturan yang aman dan cepat. Kursi Mobil Keselamatan Bayi dengan Fiksasi ISOFIX (BW26AA) memadukan desain yang dapat dilipat dengan perlindungan yang kuat, sesuai dengan standar keselamatan ECE R129, memastikan daya tahan dan kemudahan bagi orang tua yang sibuk. Demikian pula, Kursi Mobil Keselamatan Anak dengan Kaki Penopang (BW25) menawarkan perlindungan tabrakan berlapis, mengurangi risiko perpindahan, sedangkan Kursi Booster Jaring Bernapas untuk Anak Lebih Tua (BW28B2) melayani anak-anak dengan berat 20-36kg dengan bahan premium dan dapat bernapas untuk kenyamanan selama perjalanan jauh. Kursi-kursi ini tidak hanya memenuhi sertifikasi internasional seperti ISO9001 tetapi juga mengatasi keluhan umum dengan menyediakan pilihan yang terjangkau dan berkualitas tinggi yang meningkatkan keselamatan perjalanan keluarga tanpa mengorbankan kenyamanan.


Mendorong penggunaan yang konsisten melibatkan dorongan perilaku. Studi psikologis terhadap orang tua di Tiongkok menyoroti faktor-faktor seperti persepsi norma dan sikap yang mempengaruhi adopsi CRS. Program yang memanfaatkan bukti sosial—seperti testimoni komunitas atau dukungan selebriti—dapat menormalkan penggunaan CSS. Selain itu, subsidi atau insentif bagi keluarga berpendapatan rendah dapat mengurangi hambatan biaya, sehingga kepemilikan dan penggunaan menjadi lebih mudah diakses. Platform berbagi tumpangan dan produsen mobil dapat mengintegrasikan persyaratan CSS, yang selanjutnya memasukkan keselamatan ke dalam rutinitas sehari-hari.


Ke depannya, prospek keselamatan anak di Tiongkok akan optimis jika ada tindakan yang cepat. Dengan melonjaknya jumlah kendaraan dan semakin seringnya perjalanan keluarga, permintaan akan solusi keselamatan yang andal pun meningkat. Dengan memupuk budaya keselamatan proaktif, mendidik perawat, dan menegakkan peraturan, Tiongkok dapat menutup kesenjangan antara kepemilikan dan penggunaan. Orang tua yang dibekali dengan pengetahuan dan produk yang mudah digunakan seperti yang dimiliki BEWELL dapat mengubah masalah yang “diperlengkapi tetapi tidak terpakai” menjadi peninggalan masa lalu.


Kesimpulannya, rendahnya penggunaan kursi keselamatan anak di Tiongkok merupakan krisis yang dapat diatasi. Hal ini memerlukan upaya kolektif dari para pembuat kebijakan, produsen, dan keluarga untuk memprioritaskan kehidupan anak-anak di jalan. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pakar, “Kursi keselamatan anak bukan sekadar aksesori; kursi ini adalah penyelamat.” Dengan menerapkan pola pikir ini, kita dapat memastikan perjalanan yang lebih aman bagi generasi mendatang, mengurangi jumlah korban kecelakaan di jalan raya, dan membangun masa depan yang lebih aman bagi semua orang.

We use cookies to offer you a better browsing experience, analyze site traffic and personalize content. By using this site, you agree to our use of cookies. Privacy Policy
Reject Accept